APLIKASI PARTIKEL NANO TITANIUM DIOKSIDA (TIO2) DALAM PEMBUATAN SELF CLEANING TEXTILE

Oleh : Tatang Wahyudi, dkk
Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan partikel nano titanium(II) oksida mealui metode sol-gel menggunakan precursor titanium isopropoksida dan titanium(III) klorida, yang kemudian diikuti dengan proses pemisahan dan pemanasan pada suhu 500 ºC dan 800 ºC. Aplikasi partikel TiO2 hasil sintesis pada proses penyempurnaan kain katun dilakukan dengan metode pad-dry-cure. Partikel TiO2 hasil sintesis berbentuk anatase dengan ukuran partikel berkisar 8 nm. Dalam proses penyempurnaan kain katun digunakan larutan koloid TiO2 hasil sintesis dengan konsentrasi 0,2 – 1 %, dan ditambahkan surfaktan nonionik 0,5 % serta binder akrilat 2% sehingga diharapkan kain tersebut mempunyai sifat self-cleaning terhadap bakteri dan noda kecap. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kain katun yang telah mengalami proses penyempurnaan dengan TiO2 hasil sintesis mempunyai aktivitas antimikroba sebesar 90-96% dan penghilangan noda kecap sebesar 7-11%.

EKSPLORASI DESAIN PERMUKAAN PADA BAHAN NON WOVEN SABUT KELAPA UNTUK PRODUK KREATIF

Oleh : Rifaida Eriningsih, dkk

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya, yaitu pembuatan kain non woven yang memanfaatkan sabut kelapa, baik seratnya (coir fiber) maupun gabusnya (coco peat). Metoda pembuatannya adalah dengan cara pengikatan secara kimia (chemical bonded) antara kain tenun sebagai dasar dengan serat kelapa, menggunakan matriks polimer resin sebagai pengikat, dan dengan menonjolkan desain permukaanDesain permukaan diciptakan dengan variasi desain dan variasi warna serat kelapa melalui proses pemasakan, pemutihan dan pencelupan, serta variasi bentuk taburan serat dan gabus sesuai kreasi di atas kain dasar. Dari variasi tersebut dibuat produk-produk kria dengan paduan jahitan, sulaman ataupun lukisan, yang bertujuan mengikuti trend yang diminati pasar dengan suasana alami. Proses finishing dilakukan dengan memberikan proses anti air dan minyak untuk meningkatkan keawetannya.

Hasil uji sifat fisik dan ketahanan luntur warna dengan cat pigmen dan zat warna reaktif memberikan nilai yang relatif baik.   Berat bahan non woven rata-rata adalah lebih besar dari 300 g/m2, yang dapat dikategorikan sebagai kain berat, sehingga dapat dirujuk pada mutu kain denim. Hasil uji kekuatan tarik dan ketahanan luntur warnanya memenuhi persyaratan mutu kain denim (SNI 08-0560-89). Dari tinjauan aspek ekonomi dengan asumsi penggunaan sabut kelapa 500 kg/hari dan rencana penjualan produk kria 120.000 buah/tahun seharga rata-rata Rp 50.000 – Rp. 80.000, akan diperoleh laba per tahun 5,9 % – 19,7%, titik pulang pokok (BEP) 83,3 – 93,1 dan return on investment (ROI) terlaksana pada tahun ke 4.

MIKROENKAPSULASI MINYAK ATSIRI SEBAGAI BAHAN PRSERVATIF (LANJUTAN)

Oleh : Sinta Rismayani, dkk

Indonesia dikenal dengan Negara penghasil minyak atsiri. Minyak atsiri mempunyai sifat sebagai preservatif dalam produk tekstil. Teknik mikrokapsul dilakukan dengan tujuan lebih mengontrol jumlah minyak yang dilepaskan sehingga penggunaannya akan lebih bertahan lama. Mikrokapsul dibuat dengan teknik emulsi antara polivinil