PEMANFAATAN RUMPUT LAUT COKLAT UNTUK TEKSTIL KESEHATAN

Oleh : Theresia Mutia, dkk
Rumput laut, termasuk rumput laut coklat tumbuh melimpah secara alami di sepanjang pantai Indonesia, namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, terutama sebagai biofiber, misalnya serat alginat. Alginat yang terkandung dalam rumput laut coklat merupakan bahan baku yang dapat digunakan sebagai kasa pembalut luka (wound dressing). Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba pembuatan pembalut luka alginat dari rumput laut coklat jenis Sargassum Sp. dari Pameungpeuk Garut dan sebagai pembanding digunakan alginat yang tersedia di pasaran. Pengujian yang dilakukan meliputi analisa gugus fungsi, daya serap membran, uji resistensi terhadap bakteri yang sebagian besar bersifat patogen (Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Klebsiella, dan Staphylococcus citreus) dan uji iritasi pada kulit kelinci albino jantan. Dari hasil analisa gugus fungsi diketahui bahwa produk yang dihasilkan dan pembandingnya memiliki gugus fungsi yang relatif sama yang sesuai dengan senyawa alginat. Dari hasil pengujian diketahui pula bahwa produk tersebut berdaya serap tinggi, berpori, bersifat anti bakteri dan bukan merupakan media pertumbuhan bagi bakteri, namun bukan merupakan antibiotik, karena tidak terbentuknya daerah zonasi pada bakteri di sekitarnya. Selain itu produk tersebut tidak menyebabkan iritasi kulit, bahkan menunjukkan adanya perbaikan pada luka goresan, yaitu jaringan pada luka lebih menutup. Dengan demikian produk tersebut memenuhi syarat sebagai pembalut luka, karena dapat melindungi luka dari serangan bakteri, terutama bakteri patogen yang dapat menganggu proses penyembuhan luka serta dapat mempercepat penyembuhan luka.

PERBAIKAN SIFAT POLIESTER MENGGUNAKAN BAKTERI SELULOSA

Oleh : Srie Gustiani, dkk
Poliester mempunyai beberapa keunggulan seperti tahan kusut, mudah pemeliharaannya dan relatif awet, namun kekurangannya antara lain adalah kurang nyaman dipakai karena daya serapnya rendah (0,4%) dan bersifat hidrophobik. Tujuan penelitian ini adalah merubah sifat poliester menjadi hidrophilik dengan terjadi peningkatan MR (moisture regain) dan daya serap terhadap air. Proses pelapisan selulosa bakterial dilakukan dengan merendam kain dalam bakteri selulosa (Acetobacter xylinum) dalam medium air kelapa, dengan variasi waktu perendaman 3, 6, 9, dan 12 hari. Selanjutnya perlakuan dengan NaOH 3 % untuk menghilangkan ketidakmurnian selulosa bakterial yang melapisi. Produk yang dihasilkan kemudian dilakukan pencucian berulang dengan mesin lounder O-meter sebanyak 1, 2 dan 3 kali atau ekivalen dengan 5, 10 dan 15 kali pencucian dengan mesin cuci rumah tangga. Dari beberapa pengujian diketahui bahwa semakin lama waktu perendaman MR dan daya serapnya semakin meningkat, namun kekuatan tariknya mengalami sedikit penurunan terutama akibat pencucian berulang. Hasil uji SEM terlihat bahwa dengan waktu perendaman selama 6 hari terlihat lapisan selulosa bakterial yang menyelubungi serat dengan rata yang juga dibuktikan dari gugus fungsinya dari hasil uji FTIR, penurunan muatan elektrostatis dan perubahan sifat termalnya dari uji TGA dan DTA. Dari analisa tersebut dipilih kondisi optimum yaitu pada perendaman selama 6 hari dan setelah pencucian berulang sebanyak 2 kali dengan mesin lounder O-meter (setara dengan10 kali pencucian rumah tangga). Setelah dilapisi selulosa bakterial, MR, daya serap, kekuatan tarik mengalami peningkatan berturut-turut adalah 155 %; 1833 %; 15,6 %; sedangkan mulur menurun menjadi 0,02 %.

PEMANFAATAN KLOBOT JAGUNG UNTUK PRODUK TEKSTIL WALLPAPER DAN URBAN ECO FASHION DALAM MENDUKUNG INDUSTRI KREATIF

Oleh : Rahayu Dwi Lestari, dkk

Penelitian pemanfaatan klobot jagung untuk pembuatan lembaran non woven menjadi produk wallpaper dan coat (urban ecofashion) dimulai dengan menguji klobot jagung untuk mengetahui karakteristik dan keawetannya. Data menunjukkan kekuatan tarik arah memanjang 9,2 kg, dapat dicelup dengan zat warna reaktif dan daya serap pada kondisi kering sangat rendah (> 5 menit), sehingga tahan terhadap kontaminasi mikoorganisme atau menunjukkan keawetan yang relatif baik.

Percobaan pembuatan lembaran non woven klobot jagung terdiri dari bahan dasar yaitu kain tenun P/K, kain tile, dan polyuretan foam yang ditaburi potongan atau serbuk klobot jagung membentuk desain permukaan. Sebagai adhesive digunakan 3 jenis hot melt film adhesive yaitu hot melt FA 2150 (film etilena vinil asetat), hot melt FA 3150 (film poliolefin) dan hot melt FA. 4100 (film poliester). Dari lembaran non woven ini dapat dibentuk variasi desain struktur permukaan menjadi wallpaper border melalui proses laminasi pada mesin Laminating hot press.

Data hasil uji lembaran non woven dengan bahan dasar kain tenun menunjukkan bahwa lembaran tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku light coat yang memenuhi syarat sesuai   ASTM D 3562-99 (2005), “Specification Requirements for Woven Drycleanable Coat Fabrics”, sedangkan dengan bahan dasar kain tile dan polyuretan foam sesuai digunakan sebagai bahan baku produk wallpaper, karena lebih ringan, tidak tebal, dan hasil ujinya sesuai dengan pembanding wallpaper ex impor (Italy dan England). Kondisi optimum penggunaan adhesive hot melt adalah hot melt FA 4100 (adhesive film poliester).

PEMBUATAN SERAT NANO MENGGUNAKAN METODE ELECTROSPINNING

Oleh : Tatang Wahyudi, dkk

Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan serat nano (nanofiber) menggunakan metode electrospinning dari material polimer: polivinil alkohol (PVA), chitosan dan nilon-6. Optimasi proses pembuatan serat nano dilakukan dengan mempelajari pengaruh jenis polimer, konsentrasi polimer dan parameter operasi electrospinning (tegangan listrik dan jarak antara spinneret – kolektor) terhadap struktur dan morfologi serat nano. Proses electrospinning dengan menggunakan PVA 15 % dengan rentang tegangan listrik 15 – 20 kV dan rentang jarak spinneret – kolektor 10 – 12 cm menghasilkan morfologi serat nano yang tidak kontinyu dengan diameter antara 70 – 150 nm. Proses electrospinning dengan menggunakan bahan baku polimer larutan chitosan 2 % dalam asam asetat tidak dapat menghasilkan formasi fiber. Proses electrospinning menggunakan larutan nilon-6 20 % pada kondisi optimum tegangan listrik 20 kV dan jarak spinneret – kolektor 10 cm menghasilkan serat nano yang kontinyu dengan diameter berkisar antara 100 – 350 nm.

MIKROENKAPSULASI MINYAK ATSIRI SEBAGAI BAHAN PRESERVATIF

Oleh : Sinta Rismayani, dkk

ndonesia dikenal dengan Negara penghasil minyak atsiri. Minyak atsiri mempunyai sifat sebagai preservatif dalam produk tekstil. Teknik mikrokapsul dilakukan dengan tujuan lebih mengontrol jumlah minyak yang dilepaskan sehingga penggunaanya akan lebih bertahan lama. Dalam penelitian ini minyak nilam digunakan sebagai salah satu contoh minyak atsiri. Mikrokapsul dibuat dengan teknik emulsi antara polivinil asetat dengan air. Polivinil alcohol digunakan sebagai pengemulsi. Emulsifikasi pada penelitian ini dibantu dengan menggunakan ultrasonik. Mikrokapsul dapat terjadi dengan komposisi minyak nilam : PVAc = 1 : 8. Dari hasil foto menggunakan Scanning Electron Microscope terlihat bahwa dengan teknik mikroenkapsulasi minyak nilam ke dalam mikrokapsul polivinil asetat menyebabkan ukuran mikrokapsul menjadi lebih besar. Uji terhadap jenis jamur Aspergillus niger dalam media agar menunjukkan daerah yang ditutupi oleh minyak nilam tidak ditumbuhi oleh jamur tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa nilam mempunyai sifat anti jamur. Hal yang sama terjadi pada daerah pada media agar yang ditutupi oleh mikrokapsul berisi minyak nilam, pertumbuhan jamur dapat dihambat dibandingkan mikrokapsul tanpa minyak nilam. Hal ini menunjukkan minyak nilam memang terikat pada mikrokapsul polivinil asetat.

PENERAPAN SOLAR ENERGI PADA MESIN REELING SUTERA

Oleh : Mukti Widodo, dkk

Pengembangan usaha persuteraan alam dipandang sebagai salah satu usaha yang mempunyai prospek yang baik untuk menyejahterakan masyarakat dengan memanfaatkan lahan hutan yang masih terlantar. Usaha kegiatan persuteraan alam khususnya produksi kokon dan benang sutera dirasakan sangat menguntungkan, karena cepat mendatangkan hasil dan bernilai ekonomi tinggi. Teknologi yang digunakan relatif sederhana, sehingga dapat dilakukan sebagai usaha pokok maupun sampingan dan usaha keluarga. Kegiatan ini bersifat padat karya sehingga dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat yang menguntungkan dan menjadi alternatif untuk meningkatkan peranan sektor industri dalam mendorong perekonomian masyarakat di pedesaan. Akan tetapi masih ada masalah-masalah yang dihadapi dalam pengembangan persuteraan alam seperti keterbatasan modal, sumber daya manusia maupun sarana. Masalah sarana produksi sangat mempengaruhi kualitas maupun kuantitas produk. Selama ini proses reeling banyak dilakukan di dekat lokasi produksi kokon. Sementara itu lokasi produksi kokon umumnya berada di dalam hutan atau daerah terpencil di mana ketersediaan sumber listrik sebagai penggerak mesin reeling masih terbatas. Penggunaan energi alternatif di lokasi terpencil sebagai penggerak mesin reeling diharapkan dapat membantu dalam peningkatan kuantitas dan kualitas benang sutera. Energi surya menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan sebagai sumber energi untuk mesin reeling. Kapasitas panel surya disesuaikan dengan kebutuhan energi pada proses reeling.

PEMANFAATAN POLISAKARIDA DALAM BIJI ASAM SEBAGAI BAHAN PEMBANTU PROSES PRODUKSI TEKSTIL DAN KERTAS

Oleh : Wiwin Winiati, dkk

Biji asam diperoleh dari Jombang, Pamekasan, NTB dan NTT.   Tiga hal yang diperoleh dari riset ini, yaitu meningkatkan ketahanan mikroba bubuk biji asam, mengetahui kinerja bubuk biji asam sebagai wet end additive pada proses pembuatan kertas, serta mengetahui kinerja aplikasi bubuk biji asam, yang telah melalui proses karboksimetilasi, pada proses tekstil.

Penelitian dimulai dengan melepas kulit biji asam secara fisik selanjutnya biji asam dihaluskan hingga menjadi bubuk (tepung). Untuk meningkatkan kestabilan viskositas larutan bubuk biji asam (BBA) dilakukan proses karboksimetilasi, yaitu mengganti gugus hidroksil (OH) dalam polisakarida dengan gugus karboksilat dari monochloro aceticacid (MCA). Pemanfaatan biji asam pada proses produksi kertas dilakukan untuk 2 jenis bahan kertas yaitu virgin pulp dan recycle pulp. Pemanfaatan bubuk biji asam sebagai pengental pada proses printing tekstil dilakukan terhadap kain poliester

Proses karboksimetilasi dengan menggunakan katalis NaOH (cara 1) memberikan hasil yang lebih baik dari pada katalis NaHCO3   Karboksimerilasi cara 1 menghasilkan biji asam dengan derajat substitusi (DS) 0,79 – 0,87, dengan DS biji asam NTB tertinggi (0,87).     Secara keseluruhan, biji asam dapat digunakan sebagai aditif wet-end yang berperan sebagai aditif dry-strength pada pembuatan kertas, dalam beberapa hal dapat meningkatkan beberapa sifat mekanik, serta tidak terlihat pengaruh yang besar dari proses karboksimetilasi biji asam.   Aplikasi bubuk biji asam pada proses printing tekstil menunjukkan bahwa bubuk biji asam dapat digunakan sebagai pengental proses printing kain poliester dan berfungsi juga meningkatkan kelembutan kain poliester.

SINTESIS NANO PARTIKEL PERAK DAN UJI AKTIVITASNYA TERHADAP BAKTERI E. COLI DAN S. AUREUS

Oleh : Tatang Wahyudi, dkk

Pada penelitian ini dipelajari sintesis nanopartikel perak dan uji aktivitasnya sebagai anti-mikroba terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Nanopartikel perak disintesis melalui pembentukan larutan koloid perak dengan metode reduksi perak nitrat dengan zat pereduksi natrium borohidrida. Performa hasil sintesis larutan koloid nanopartikel perak dalam menghambat pertumbuhan mikroba dievaluasi melalui uji aktivitas terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pada perbandingan molar NaBH4/AgNO3 = 1,2 dan perbandingan berat Ag/asam poli akrilat (PAA) = 10,7, diperoleh diameter rata-rata nanopartikel perak sebesar 71,8 nm dengan nilai polydispersity index (PI) sebesar 0,293. Hasil sintesis larutan koloid nanopartikel memperlihatkan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri, dan daya hambat terhadap Staphylococcus aureus ditemukan 30% lebih kuat dibanding terhadap bakteri Escherichia coli. Hasil uji aktivitas antimikroba secara kuantitatif menunjukkan bahwa persentase reduksi bakteri dapat mencapai hingga lebih dari 99%.

PROSES DAUR ULANG LIMBAH CAIR TEKSTIL MENJADI AIR PROSES DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN BAKTERIAL SELULOSA DARI LIMBAH TAHU

Oleh : Srie Gustiani, dkk

Kegiatan industri tekstil merupakan salah satu kontributor limbah cair warna pada badan air penerima yang dihasilkan dari proses basah tekstil dalam jumlah yang besar. Usaha pengolahan limbah dilakukan untuk menurunkan kadar pencemar tetapi hasil olahan masih tetap dibuang. Mengingat kebutuhan air dimasa yang akan datang semakin meningkat sedangkan perolehan air semakin kecil dan juga mahalnya biaya pengolahan, maka perlu suatu upaya untuk memanfaatkan air limbah tersebut menjadi air bersih kembali dengan limbah yang sekecil mungkin. Salah satu teknologi yang digunakan di dalam pengolahan air reuse adalah teknologi membran filtrasi.

Pada penelitian ini membran filtasi yang digunakan terbuat dari limbah tahu yang difermentasi menggunakan bakteri Acetobacter xylinum yang selanjutnya dibuat film tipis dengan menggunakan mesin Hot press pada suhu 120ºC dan tekanan 250 kg/cm2. Membran mikrofitrasi bakterial selulosa digunakan sebagai media filtrasi pada pretreatment dengan tujuan untuk melihat kinerja membran yang dikombinasikan dengan proses pengolahan menggunakan bottom ash. Proses pengolahan dilakukan secara kontinyu dengan variasi terhadap konsentrasi dan laju alir air. Hasil yang diperoleh dari proses pengolahan secara keseluruhan memberikan efisiensi penyisihan COD dan TSS yang tinggi yaitu sebesar 91,53% dengan sisa konsentrasi COD sebesar 10 mg/l dan 92,06% dengan sisa konsentrasi TSS sebesar 5 mg/l. Nilai kesadahan hasil proses kurang dari 70 mg/l. Dari hasil pengamatan yang diperoleh maka kualitas air pengolahan tersebut dapat digunakan kembali sebagai air untuk proses tekstil karena memenuhi persyaratan air proses tekstil.